Seminar Indonesia Quality & Safety Forum 2018

Acara seminar INDONESIA QUALITY & SAFETY FORUM 2018, di Jakarta (17/10/2018)

Pada tanggal 17 Oktober 2018 bertempat di hotel JW MARRIOT Jakarta, PT. Qualis Indonesia mengudang GAMATRINDO untuk hadir dalam seminar Indonesia Quality & Safety Forum 2018. Acara tersebut dihadiri oleh pelaku usaha dan Asosiasi dari berbagai jenis industri. Menteri Perindustrian diwakili oleh Staf Ahli Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri, Imam Haryono.

Kegiatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan bagi PT. Qualis Indonesia, karena ditempat yang sama tahun lalu juga sudah dilaksanakan. Sebagai salah satu lembaga uji yang sudah diakreditasi untuk produk lampu, PT. Qualis Indonesia yang diwakili oleh Marketing Manager Lab. LED-Luminer, Teguh Ibrahim, menyatakan bahwa lab. uji nya telah mampu untuk menguji semua parameter lampu LED-Luminer dengan biaya antara 16-19 juta dalam waktu pengujian maksimal dua bulan. Anggota GAMATRINDO yang diwakili oleh PT. Moradon Berlian Sakti telah melakukan pengujian untuk lampu penerangan jalan umum.

Imam Haryono, membuka acara seminar tersebut dengan  menyampaikan tentang program Indonesia Making 4.0 dan permasalahan serta tantangan bersama yang akan dihadapi.  Untuk itu, diperlukan sinergi yang kuat antara Kementerian/Lembaga Pemerintah dan pelaku usaha serta dukungan dari  perguruan tinggi. Agar target Indonesia menjadi negara sepuluh besar  di dunia tercapai pada tahun 2030. Selanjutnya ditekankan, bahwa ada lima industri yang menjadi fokus pembangunan dalam program Indonesia Making 4.0 dan salah satunya adalah industri Elektronika, dimana termasuk industri lampu.

Pada masa sesi tanya jawab, setelah acara pembukaan, ada topik tanya jawab  menarik perhatian, yang disampaikan secara semangat oleh Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI), Sutiadji Lukas. Ketua Asosiasi Mainan Indonesia  menyampaikan bahwa agar Pemerintah tidak memaksakan penerapan secara wajib suatu SNI. Sementara itu dalam pemaparan oleh Deputi Penerapan Standardisasi BSN, Kukuh, sesuai Pasal 10 ayat3 dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuain bahwa didalam Framework  regulasi teknis maupun perumusan regulasi teknis, dalam rangka penerbitan suatu regulasi teknis oleh Kementerian harus memperhatikan kepada kesiapan industri dalam negeri.

Selanjutnya pihak Asosiasi Mainan Indonesia juga mempermasalahkan tentang pengawasan yang dilakukan oleh oknum penegak hukum, yang pada akhirnya berujung kepada sejumlah dana yang harus diberikan. Bagi anggota GAMATRINDO kehadirannya pada acara tersebut berbuah hikmah. Bahwa yang dialami oleh anggota GAMATRINDO dalam perjalanan penerepan secara wajib SNI lampu, ternyata juga dialami oleh  anggota Asosiasi Mainan Indonesia, Pelaksanaan pengawasan yang tidak berpihak kepada industri dalam negeri sudah menjadi trauma sendiri bagi industri lampu dalam negeri. Sehingga perlu upaya yang lebih dari regulator untuk bisa meyakinkan bahwa  peraturan yang akan  diterbitkan semangatnya tidak  memberatkan dan membinasakan industri dalam negeri.

Wakil dari GABEL, yang mewakili industri elektronika dalam negeri, mempertanyakan batas kewenangan Kementerian selain Kementerian Perindustrian untuk menerbitkan regulasi teknis SNI secara wajib.  Karena yang berwenang seharusnya Kementerian yang berperan sebagai pembina industri yang lebih mengetahui benar kondisi sebenarnya industri yang akan terkena dampak penerapan SNI.

Mudah-mudahan acara seminar semakin membuka mata dan hati  dari Kementerian/Lembaga terkait betapa pentingnya koordinasi dan harmonisasi regulasi, agar industri dalam negeri tidak semakin terpuruk. Dan semua masukan dari peserta seminar dapat ditindaklanjuti tidak hanya menjadi bahan laporan atau catatan pribadi para pejabat. Semoga.